-->

SENANDUNG BIJAK SANG FILSUF : TULI SELEKTIF


“Kritik, kritik, dan lagi-lagi kritik! Bosan aku mendengarnya, Tuan!” dengan geram Jessica, seorang dosen muda berujar kepada Sang Filsuf.
“Dari siapa, Nona?” sahut Filsuf Tua sambil tersenyum.
“Dari siapa lagi kalau bukan dari Bu Dekan yang cerewet itu,” ujar Jessica lagi dengan ketus.
“Kau tidak mau mendengar kritik dan hanya ingin mendengar pujian dan sanjungan, Jess?”
“Tentu, Tuan, siapa yang suka kritik? Siapa pula yang tidak menyukai pujian dan sanjungan? Aku bosan dikritik terus!”
“Walaupun mungkin kinerjamu membutuhkan kritikan dan bukan sanjungan?” tanya Filsuf sambil mengernyitkan alis putihnya.
Wanita muda yang cantik itu terdiam. Sulit amat menjawab pertanyaan Si Tua ini, batinnya.
Sambil menatap langit dengan pandangan mata menerawang Sang Filsuf Tua berujar, ”Tidak setiap orang menyadari, kritik dan pujian itu sama bermaknanya. Banyak orang hanya ingin menerima pujian dan sanjungan. Hanya sedikit orang yang rela menerima kritikan dengan hati terbuka. Kau masih sangat muda, Jess. Waktumu bertumbuh sebagai guru masih cukup panjang. Nasehatku, jangan menjadi tuli selektif, hanya mau mendengar yang ingin kaudengar dan mengabaikan bahkan marah terhadap semua yang tak  ingin kaudengar. Sekali lagi, jangan tuli selektif, Nona!”

Baca Juga :

Click to comment