-->

SENANDUNG BIJAK SANG FILSUF : TANDA-TANDA KEHIDUPAN


“Bagaimana pandangan Tuan tentang unjuk kekuasaan?” tanya Pak Dirman kepada Sang Filsuf.
“Kekuasaan siapa yang Anda maksud, Pak Dirman?,” Filsuf Tua balik bertanya.
“Kekuasaan para pemimpin, misalnya di perusahaan, Tuan.”
 “Hm, unjuk kekuasaan. Maksud Anda, para pemimpin ‘mengunjukkan’ kekuasaan mereka?” lagi-lagi Filsuf Tua balik bertanya.
Memang sering sulit berbicara dengan Orang Tua Nyentrik ini, batin Pak Dirman, tapi aku tetap mau dengar pandangannya. Sembari tetap tersenyum, Pak Dirman berkata lagi, “Ya, tuan, kapan waktunya para pemimpin boleh unjuk kekuasaan.”
“Dalam sedikit sekali kesempatan, unjuk kekuasaan itu perlu dilakukan. Ingat, Pak, dalam sedikit sekali kesempatan! Dan dalam banyak kesempatan, kekuasaan yang muncul dari kebersamaan semua yang terlibat dalam perusahaan itulah yang harus ‘diunjukkan’!” ujar Sang Filsuf tegas.
“Kalau muncul kegaduhan karenanya, Tuan?”
“Di sinilah irama kepemimpinan itu bersenandung, Pak Dirman, di saat-saat para pemimpin, dari hari ke hari, berusaha membawa para staf mereka kepada ‘kematangan’ dalam kebersamaan. Kalau upaya itu dilakukan dengan baik, dalam sebagian besar kesempatan kegaduhan tak akan muncul. Muncul keriuhan? Ya, tapi sangat sedikit yang berujung pada kegaduhan. Dan keriuhan itu adalah………”
“Apa, Tuan?”

Click to comment