-->

CATATAN CINTA GREG 5 : BE THE WINNING MANAGER AGAIN !

Kota Kenangan, 3 Agustus Tahun Perdana Perkawinan Kami
Sejak kemarin sore aku dan Cath ‘berbulan madu’ ke pantai. Kami menempati sebuah bungalow sederhana yang asri dan jauh dari keramaian. Walau belum mungkin menikmati bulan madu yang panjang, kami berusaha merencanakan terciptanya ‘letupan-letupan’ yang selalu dapat menghangatkan cinta kami. Aku dan Cath menyisihkan pendapatan kami dalam tabungan khusus, berlabel ‘Khusus Bulan Madu’. Wow, alangkah indahnya !

Sederet moment indah kuabadikan dengan kamera yang tak lupa kubawa serta. Moment-moment indah yang akan selalu menjadi kenangan di sepanjang kahidupan kami. Benar kata orang, masa-masa awal perkawinan adalah masa-masa penuh madu, begitu menghanyutkan. Kami masih merasa seperti sedang pacaran.

Sejenak pikiranku terpancang ke masa lalu, tujuh tahun yang lalu. Perkenalanku dengan Cath terjadi begitu saja. Di trotoar depan kampusku tanpa sengaja aku menyenggol seorang cewek berambut panjang. Kala itu aku sedang tergesa menuju ruang kuliah karena, apalagi kalau bukan terlambat, kebiasaanku hampir setiap waktu. Tas yang ada dipelukan cewek itu jatuh. Dengan perasaan campur aduk, aku ‘terpaksa’ mengambilkan tas yang tergeletak di trotoar itu sembari minta maaf. Kutatap wajah gadis itu, wow, manis sekali, dengan senyuman lembut dan tuturan lirih, ‘Nggak papa.’

Hatiku tak rela kala mataku melepas wajah manis itu dari tatapan, namun seketika terbayang di mataku wajah garang ‘Pak Dirman Killer’, Dosen Ekonomi Makro. ‘Yok, Dek,’ ujarku sambil berlari kecil menuju kampus. Lambang sekolah yang ada di baju seragam SMA itu tak luput dari sapuan tatapku, SMA Kuntum Bangsa.

Sejak saat itu, aku jadi rajin nongkrong di sekitar SMA Kuntum Bangsa, sekedar ‘menikmati’ wajah manis berambut panjang yang selalu lewat di situ. Hingga suatu siang kuberanikan diri berkenalan dengannya. Cath, nama yang amat manis menurutku, semanis pemiliknya.

Beberapa bulan kemudian kami resmi pacaran. Cath masih duduk di bangku SMA kelas I dan aku pada semester IV di Fakultas Ekonomi. Setiap malam minggu aku datang ke rumahnya dan tak lupa kubawakan martabak telur, kesukaan Bapaknya, yah, buat ‘pelicinlah’.

Tujuh tahun pacaran tentu bukan waktu yang singkat. Banyak teman bertanya,’Apa nggak bosan ?’ Setiap kali pertanyaan itu menyodok kami, aku dan Cath bertatapan dan serentak mengangkat bahu dalam senyuman. Bosan ??? Tentu saja ada saat-saat di mana kebosanan itu datang menggoda. Tapi, komitmenlah yang menjadi pendorong sekaligus terapi untuk kebosanan itu, Komitmen untuk menanti saat yang tepat, the right moment !

Kapan the right moment itu ? Tentu saja setelah aku dan Cath menamatkan pendidikan kami. ‘Mau dikasih makan apa anak orang kalau kamu sendiri belum lulus dan berpenghasilan ?’  Begitu selalu ucapan Ibu dan Bapakku. Aku tersenyum kecut. Pastilah tidak cukup hanya dengan martabak telur, ha ha ha.

Selepas dari Fakultas Ekonomi, aku melanjutkan pendidikan ke Program Magister Manajemen dan pada tahun yang sama, Cath diterima di Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur. Setelah berjuang selama dua setengah tahun, aku diwisuda sebagai Magister Manajemen. Beberapa tawaran pekerjaan menungguku. Untuk pertama kalinya aku diterima di sebuah perusahaan sepatu, sebagai Kepala Bagian Marketing. Dalam tiga tahun, karierku terus menanjak hingga aku menduduki jabatan Direktur Keuangan di perusahaan itu.

Apakah aku ambisius hingga meninggalkan jabatan Direktur Keuangan di PT. Asia Jaya Persada dan ‘meloncat’ ke perusahaan baru ini sebagai Direktur Utama ? Tentu saja tidak ! Kok pede amat jawab tidak? Justru karena aku ingin melapangkan jalan bagi orang lain, yang kuanggap cukup kompeten menggantikanku dan aku harus meniti karier lain.

Dua tahun terakhir ini aku melakukan pengkaderan dengan kiat yang kusebut sebagai ‘Fenomena Tahu Goreng’. Aku memberi kesempatan kepada beberapa stafku untuk bersaing, menunjukkan kompetensi mereka dan membuktikan diri bahwa mereka pantas maju. Mengapa kusebut Fenomena Tahu Goreng ? Lihatlah Penjual Tahu Goreng Pinggir Jalan. Sejumlah tahu dipotongnya dengan ukuran yang hampir sama. Semua tahu dimasukkan dalam adonan tepung yang sama. Sewaktu di masak, satu persatu tahu-tahu itu, dalam waktu yang tak banyak berbeda, dicemplungkan ke dalam minyak panas dalam kuali yang sama di atas kompor yang sama. Sang Penjual menunggu, tahu yang matang lebih dulu, itulah yang diangkat lebih dulu. Nyaris persis sama dengan itu, para staf kuberikan kesempatan yang nyaris sama. Dan kini, aku telah mendapatkan ‘tahu yang lebih dulu matang’, bahkan ‘matang luar dalam’.

Ada yang bertanya padaku, ‘Seberapa penting arti kaderisasi bagimu ? Bukankah itu sama dengan ‘membesarkan anak harimau’ dan akhirnya ‘bunuh diri’ ?’ Kuakui, terkadang cukup sulit menjelaskan kepada sejumlah orang, arti penting kaderisasi. Kalau sudah begitu, aku tersenyum sendiri dan berlalu.

Takkan pernah kulupakan untaian kata manis dari Neale Donald Walsch,’Pemimpin sejati bukanlah mereka yang memiliki paling banyak pengikut, tapi dia yang dapat menciptakan pemimpin baru.’ Kini aku sungguh bangga, ‘menelurkan sekaligus menetaskan’ pemimpin baru hingga tuturan Sang Filsuf dalam tulisan Leonardo W. Permana dapat juga dialamatkan padaku,’Seperti itulah kaderisasi, Greg. Dengan memberi bimbingan kepada stafmu, engkau mengadakan kaderisasi. Engkau mempersiapkan tampilan berikutnya di panggung kepemimpinan setelah tampilanmu. Dengan begitu, kau tidak akan bicara melalui mikrofon, ‘Tampilan berikutnya, AKU, berikutnya, AKU, dan berikutnyapun, MASIH AKU’.

Dengan perjalanan karierku, aku juga ingin membuktikan apa yang sering ditegaskan Tanri Abeng, perjalanan karier yang baik tidak bisa dicapai melalui jalan pintas. Hampir lima tahun aku memupuk ‘stamina kesabaran’ untuk menjadi the winning manager, meminjam istilah Bambang Bhakti. Aku merintis jalan sekaligus meretas jalan bagi orang-orang lain melalui kerangka persaingan yang tepat, sparring partnership, mencari pesaing dan menjadikannya lawan dalam latihan tanding. Bukan dengan menendang pesaing seperti sepqk terjang orang dalam fight partnership.

Kini aku sungguh menemukan lapangan tanding baru, perusahaan yang kupimpin sekarang ini, yang membutuhkan segudang stamina kesabaran baru. Optimisme yang menggelora dalam hati berbisik di telingaku,’Be the winning manager again, OK!’ Dan kujawab, ‘Of course, Sir !’
Baca Juga:

Click to comment