-->

SENANDUNG BIJAK SANG FILSUF : NURANI

Para mahasiswa mengerubungi Sang Filsuf yang sedang duduk membaca di Taman Kolese. Hari ini adalah hari terakhir dalam semester genap tahun ini. Besok adalah awal libur panjang.
“Tuan,” Meilan mengusik Sang Filsuf, ”kami ingin bertanya.”
“Bertanyalah!”
“Dari sekian banyak ajaran Tuan tentang kepemimpinan, coba sebutkan satu hal terpenting!”
“Nurani,” sahut Filsuf Tua, singkat dan terkesan acuh.
 “Sombong amat,” ujar Wulan memancing.
“Kan sudah kukatakan, nurani! Mau apa lagi, hah?” Filsuf Tua pura-pura marah.
“Penjelasannya dong, Tuan,” sambung si cantik Tamara memelas.
Sambil melayangkan pandangannya ke langit yang cerah Sang Filsif berujar, ”Sebelum memutuskan dan melakukan sesuatu, seorang pemimpin harus mengetuk pintu nuraninya dan bertanya tentang kebenaran, Nak. Artinya, kalau dia membantu memang karena ingin membantu, dia membangun karena dia memang ingin membangun. Tetapi saat dia menghambat bukan hanya karena dia ingin menghambat, dan dia menyalahkan bukan hanya karena dia ingin menyalahkan!  Dia menghambat dan menyalahkan hanya karena dia ingin menumbuhkan dan mengembangkan, menumbuhkan dan mengembangkan organisasi dan semua yang ada di dalamnya. Dan semua itu sebelumnya sudah ditanyakan kepada Sang Nurani. Selamat berlibur, anak-anakku! Sampai jumpa, dan jangan lupakan…….....Sang Nurani!” ujar Sang Filsuf sambil beranjak pergi. Para mahasiswa terpana dengan iringan rasa rindu untuk bertemu kembali dengan Guru nyentrik yang ‘ditakuti’ tapi juga dirindukan itu.

Baca Juga :

Click to comment