-->

SENANDUNG BIJAK SANG FILSUF : BUSUR DAN ANAK PANAH


“Aku heran, berkali-kali aku merencanakan sejumlah hal dalam organisasi itu, selalu saja rencanaku digagalkan. Aku sungguh tak tahu harus berbuat apa lagi, Tuan!” gerutu Amanda, seorang aktivis muda.
Sambil mengelus-elus jengggot putihnya, Sang Filsuf berujar, ”Organisasi dapat diumpamakan sebagai busur, Amanda. Kau adalah salah satu anak panahnya.”
“Kalau begitu, organisasi bertugas melesatkan aku sebagai anak panah, bukan, Tuan? Organisasi itu seharusnya mendukung setiap rencanaku, bukan malah sebaliknya! Organisasi macam apa itu? Huh!” ujar Amanda geram.
“Pernyataanmu tepat! Tapi kau jangan lupa, kau bukanlah satu-satunya anak panah yang harus dilesatkan busur itu. Masih ada sederetan anak panah lain yang perlu dilesatkan oleh busur yang sama, Nona!” ujar Filsuf Tua.
Amanda berpikir sejenak lalu berkata lagi,”Langkahku, Tuan?”

    Click to comment